Welcome to my life...

IMAM TAUFIQ
Pekalongan,2 Januari ....

 

BERITA ONLINE

TRANSPLANTASI ORGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM


TRANSPLANTASI ORGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Pendahuluan
Transplantasi organ tubuh manusia merupakan masalah baru yang belum pernah dikaji oleh para fuqaha klasik tentang hukum-hukumnya. Karena masalah ini  adalah anak kandung dari kemajuan ilmiah dalam bidang pencangkokan anggota tubuh, dimana para dokter modern bisa mendatangkan hasil yang menakjubkan dalam memindahkan organ tubuh dari orang yang masih hidup/ sudah mati dan mencangkokkannnya kepada orang lain yang kehilangan organ tubuhnya atau rusak karena sakit dan sebagainya yang dapat berfungsi persis seperti anggota badan itu pada  tempatnya sebelum di ambil.
Dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh ada tiga pihak yang terkait dengannya : pertama, donor, yaitu orang yang menyumbangkan organ tubuhnya yang masih  sehat untuk dipasangkan kepada orang lainyang organ tubuhnya menderita sakit, atau terjadi kelainan. Kedua, resipien, yaitu orang  yang menerima organ  tubuh dari donor yang karena satu dan lain hal, organ tubuhnya yang harus diganti. Ketiga, tim ahli, yaitu  para dokter yang menangani operasi  transplantasi dari pihak donor kepada resipien.
Bertalian dengan donor, transplantasi dapat dikategori kepada tiga tipe, yaitu :
1)      Donor dalam keadaan hidup sehat. Dalam tipe ini diperlakukan seleksi yang cermat dan harus diadakan general check up (pemeriksaan kesehatan  yang lengkap dan menyeluruh) baik terhadap donor, maupun terhadap resipien. Hal ini dilakukan demi untuk menghindari kegagalan transplantasi.
2)       Donor dalam keadaan koma. Apabila donor dalam keadaan koma,atau di d uga kuat akan meninggal segera, maka dalam pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat kontrol dan penunjang kehidupan, misalnya  bantuan alat pernafasan khusus.
3)      Donor dalam keadaan meninggal. Dalam tipe ini, organ tubuh  yang akan dicangkokkan diambil ketika donor sudah meninggal berdasarkan ketentuan medis dan yuridis.
Berdasarkan uraian diatas, maka timbul pertanyaan : “ bagaimana pandangan hukum islam tentang transplantasi organ tubuh?” Inilah yag akan menjadi pokok  masalah  dalam makalah ini.

B. Pengertian dan SejarahTransplantasi Organ
Transplantasi organ adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu tempat ketempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi  tertentu.[1] Tujuan utama transplantasi organ adalah mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Transplantasi  ditinjau dari sudut si penerima dapat dibedakan menjadi :
1)      Autotransplantasi, yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh orang itu sendiri.
2)      Homotransplantasi, yaitu pemindahan suatau jaringan atau organ dari  tubuh seseorang ke  tubuh  orang lain.
3)      Heterotransplantasi,  yaitu pemindahan suatu jaringan atau organ dari  suatu spesies ke tubuh spesies lainnya.
Ada dua komponen yang  penting yang mendasari transplantasi yaitu :
Ø  Eksplantasi, yaitu usaha mengambil  jaringan atau organ manusia yang hidup atau yang sudah  meninggal.
Ø  Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi, yaitu :
Ø  Adaptasi donasi, yaitu  usaha  dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang  diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara  biologis dan  psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan / organ.
Ø  Adaptasi resipien, yaitu usaha dan kemampuan diri  dari penerima jaringan / organ tubuh baru sehingga tubuhnya  dapat menerima atau menolak jaringan / organ tersebut, untuk berfungsi  baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.
Tahun 600 SM di India, susruta telah melakukan transplantasi kulit. Sementara jaman  Renaissance, seorang ahli bedah dari Italia bernama Gaspare Tagliacozzi juga telah melakukan hal  yang sama. Diduga  John Hunter (1728-1793) adalah pioneer bedah eksperimental,  termasuk bedah transplantasi.  Dia  mampu membuat kriteria  teknik bedah untuk menghasilkan suatu jaringan transpalntasi yang tumbuh di  tempat baru. Akan tetapi sistem golongan darah dan sistem histokompatibilitas yang erat hubungannya dengan reaksi terhadap transplantasi belum ditemukan. Pada abad ke-20 wiener dan landsteiner menyokong  perkembangan transplantasi dengan menemukan golongan darah sistem ABO dan system Rhesus. Saat ini perkembangan ilmu kekebalan tubuh makin berperan  dalam keberhasilan tindakan  transplantasi. Perkembangan teknologi kedokteran terus meningkat  searah dengan perkembangan teknik transplantasi. Ilmu  transplantasi modern makin berkembang dengan ditemukannnya metode-metode pencangkokan, seperti :
a)      Pencangkokkan  arteria mammaria interna didalam operasi lintas koroner oleh Dr. George E.Green.
b)      Pencangkokkan jantung, dari jantung kera kepada manusia oleh Dr. Cristian Bernhard, walaupun resepiennya kemudian meninggal dalam waktu 18 hari.
c)      Pencangkokkan sel-sel substansia nigra dari bayi  yang  meninggal ke penderita parkinson oleh Dr. Andreas Bjornklund.
Masalah etik dan moral dalam transplantasi beberapa pihak yang ikut  terlibat dalam usaha transplantasi adalah :
·         Donor hidup adalah orang yang memberiakn jaringan / organnya kepada orang lain (resipien). Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi
·         Jenazah  dan donor mati adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan sungguh-sungguh untuk memberikan jaringan/ organ tubuhnya kepada orang yang  memerlikan apabila ia  telah meninggal kapan seorang donor  itu dapat dikatakan meninggal secara wajar, dan apabila sebelum meninggal , donor itu sakit,  sudah sejauh mana pertolongan dari dokter yang merawatnya.
·         Keluarga donor dan ahli waris.
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan saling pengertian  dan  menghindari konflik semaksimal mungkin ataupun tekanan psikis  dan emosi di kemudian hari
·         Resipien adalah orang yang  menerima jaringan atau organ  orang lain.
·         Dokter dan tenaga pelaksana lain.
Untuk melaksankan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat persetujuan dari  donor, resipien maupun keluarga kedua belah pihak.
·         Masyarakat
Secara tidak  sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi.[2]
Pada saat ini peraturan perundang-undangan   yang ada adalah  peraturan pemerintah No. 18 tahun 1981, tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis serta  transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia. Pokok-pokok peraturan tersebut adalah pasal 10 yang berbunyi “Transplantasi alat untuk jaringan tubuh manusia dilakukan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai dimaksud dalam pasal 2 huruf a dan huruf b, yaitu harus dengan persetujuan tertulis  penderita dan / keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia”.

C.    Hukum Transplantasi Organ
            Adapun dalil-dalil yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan hukum trasplantasi organ tubuh, antara lain :
·    Alqur’an
Ø  Surat Al-Baqarah ayat 195, yang berbunyi : 
(#qà)ÏÿRr&ur Îû È@Î6y «!$# Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ÷ƒr'Î/ n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ¡ ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÊÒÎÈ  
Artinya :
“ Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “
Ayat tersebut menjelaskan  bahwa islam tidak membenarkan  seseorang membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya, tanpa berusaha mencari penyembuhan secara  medis dan non medis, termasuk upaya transplantasi , yang memberikan harapan untuk bisa bertahan hidup dan menjadi sehat kembali.
Ø  Surat Al-Maidah ayat 32
ô`tBur….. $yd$uŠômr& !$uK¯Rr'x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $YèÏJy_ 4 ôs)s9ur óOßgø?uä!$y_ $uZè=ßâ ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ¢OèO ¨bÎ) #ZŽÏWx. Oßg÷YÏiB y÷èt/ šÏ9ºsŒ Îû ÇÚöF{$# šcqèùÎŽô£ßJs9 ÇÌËÈ  
Artinya :
“ Dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tindakan kemanusiaan (seperti transplantasi) sangat dihargai oleh agama islam.
Ø  Surat Al-Maidah ayat  2
(#qçRur$yès?ur…. n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ 
Artinya :
“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. “
Perintah untuk saling tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa ini merupakan perintah bagi seluruh manusia, yakni  hendaklah sebagian kalian menolong sebagian yang lain.[3]
Ayat-ayat tersebut menyuruh berbuat baik kepada sesama manusia dan saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Menyumbangkan organ tubuh si mayit merupakan suatu perbuatan tolong menolong dalam kebaikan karena memberi manfaat bagi orang lain yang sangat memerlukannya.
·    Hadist
Hadis Nabi SAW :”Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhya Allah tidak meletakkan suatu pentakit, kecuali dia juga meletakkan obat penyembuhnya,selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua.”(H.R. Ahmad, Ibnu Hibban dan  Al-Hakim dari Usamah Ibnu Syuraih)
            Hadist  tersebut menunjukkan, bahwa wajib hukumnya berobat bila sakit, apapun jenis dan macam penyakitnya, kecuali penyakit tua. Oleh sebab itu, melakukan transplantasi sebagai upaya untuk menghilangkan penyakit hukumnya mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran islam.[4]
Dari dalil-dalil diatas maka dapat diambil hukum mengenai transplantasi organ yaitu:
v  Mengambil organ tubuh donor (jantung, mata, ginjal) yang sudah meninggal secara yuridis dan medis hukumnya mubah, yaitu dibolehkan menurut pandangan islam, dengan syarat bahwa resipien dalam keadaan darurat yang mengancam jiwanya bila tidak dilakukan transplantasi itu, sedangkan ia sudah berobat secara optimal, tetapi tidak berhasil.
Pendapat yang mendukung transplantasi organ adalah:
Hingga kini, tidak ada ulama yang mengajukan  argumen tertulis  yang secara terang-terangan mendukung transplantasi organ. Namun demikian,  ulama di berbagai belahan dunia telah menulis  argumen-argumen yang mendukung maupun mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan tengtang transplantasi organ.
Para ulama yang mendukung pembolehan transplantasi organ berpendapat  bahwa transplantasi organ harus dipahami sebagai satu bentuk layanan altruistik bagi sesama muslim. Pendirian mereka tentang transplantasi organ dapat diringkas sebagai berikut:
a)      Kesejahteraan publik (al-Mashlahah)
Kebolehan transplantasi organ harus dibatasi dengan ketentuan-ketentuan berikut :
-          Transplantasi organ tersebut adalah satu-satunya bentuk (cara) penyembuhan yang bisa ditempuh.
-          Derajat keberhasilan dari prosedur ini diperkirakan tinggi.
-          Ada persetujuan dari pemilik organ yang akan ditransplantasikan  atau dari ahli warisnya.
-          Kematian orang yang organnya akan diambil itu telah benar-benar diakui oleh dokter yang reputasinya terjamin, sebelum diadakan operasi pengambilan organ.
-          Resipien organ tersebut sudah diberitahu tentang operasi  transplantasi berikut implikasnya.
b)      Altruisme (al-Itsar)
Dalam surat Al-maidah ayat 2 telah  menganjurkan bahwa umat islam untuk bekerja sama satu sama lain dan memperkuat  ikatan persaudaraan mereka. Dengan demikian, berdasarkan ajaran diatas, tindakan seseorang yang masih  hidup untuk mendonorka salah satu organ tubuhnya  kepada saudara kandungnya atau orang lain yang sangat membutuhkan harus dipandang sebagai  tindakan  altruisme dari orang-orang yang menyadari bahwa mereka memiliki sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. 
c)      Organ Tubuh Non muslim
Kebolehan bagi seorang muslim untuk menerima organ tubuh nonmuslim didasarkan pada dua syarat  berikut ;
-          Organ yang dibutuhkan tidak  bisa diperoleh dari tubuh seorang muslim.
-          Nyawa muslim  itu bisa melayang jika transplantasi tidak segera dilakukan.[5]
v  Akan tetapi Mendonorkan Organ tubuh dapat menjadi haram hukumya apabila :
a.       Transplantasi organ tubuh diambil dari orang  yang masih dalam keadaan hidup  sehat, dengan alasan :
      Firman Allah dalam Alqur’an S. Al-Baqarah ayat 195, bahwa ayat tersebut mengingatkan , agar jangan  gegabah dan ceroboh dalam melakukan sesuatu, tetapi harus memperhatikan akibatnya, yang kemungkinan bisa berakibat fatal bagi diri donor, meskipun perbuatan itu mempunyai tujuan kemanusiaan yang baik dan luhur.
b.      Melakukan transplantasi dalam keadaan dalam keadaan koma.
Walaupun  menurut dokter bahwa si donor itu akan segera meninggal maka transplantasi tetap haram hukumnya karena hal itu dapat  mempercepat kematiannya dan mendahului kehendak Allah. Dalam hadis nabi dikatakan :

“ Tidak boleh membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat madharat pada orang lain.”(HR. Ibnu Majah, No.2331)
c.       Penjualan Organ Tubuh
Sejauh  mengenai  praktik  penjualan organ tubuh  manusia, ulama sepakat bahwa praktik seperti itu hukumnya haram berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut :
-          Seseorang tidak boleh  menjual benda-benda yang bukan  miliknya.
-          Sebuah hadis menyatakan, “ Diantara orang-orang yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat adalah mereka yang menjual manusia merdeka dan memakan  hasilnya.”
      Dengan demikian , jika seseorang menjual manusia merdeka, maka selamanya si pembeli tidak memiliki hak apapun atas diri manusia itu, karena sejak awal hukum transaksi itu sendiri adalah haram.
-          Penjualan organ manusia bisa mendatangkan penyimpangan, dalam arti bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan diperdagangkannya organ-organ tubuh orang miskin dipasaran layaknya komoditi lain. [6]

D. Penutup
Dari uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Transplantasi organ hukumnya  mubah dan dapat berubah hukumnya sesuai  dengan situasi  dan kondisi yang dihadapi. Transplantasi ini  dapat di qiyaskan dengan donor darah dengan  illat bahwa donor darah dan organ tubuh dapat dipindahkan tempatnya, keduannya suci dan tidak dapat diperjual belikan. Tentu saja setelah perpindahan  itu terjadi maka tanggungjawab atas organ itu menjadi tanggungan orang yang menyandangnya. Kaidah-kaidah hukum wajib dijunjung dalam melakukan trasnplantasi ini antaranya :
Tidak boleh menghilangkan bahaya dengan menimbulkan bahaya lainnya artinya :
·         organ tidak boleh diambil dari orang yang masih memerlukannnya
·         Sumber  organ harus memiliki kepemilikan yang penuh atas organ yang diberikannnya, berakal, baligh, ridho dan ikhlas dan tidak mudharat bagi dirinya.
·         Tindakan transplantasi mengandung kemungkinan sukses yang lebih besar dari kemungkinan gagal.
·         Organ manusia tidak boleh diperjualbelikan sebab manusia hanya memperoleh hak memanfaatkan dan tidak sampai memiliki secara mutlak.




DAFTAR PUSTAKA


Yasin, M. Nua’aim . 2001 . Fiqih Kedokteran . Jakarta : Pustaka Al-Kautsar
Mohsin Ebrahim, Abdul Fadl . 2004 . Tela’ah Fiqih dan Bioetika Islam . Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta
Nata, Abuddin . 2006 . Masail Al-Fiqhiyah . Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Khotib, Akhmad . 2008 . Tafsir Al-Qurthubi . Jakarta : Pustaka Azam
http ://Konsultasi . Wordpress . Com/2007/01/13/ Transplantasi –Organ- 2/


[1] http :// Konsultasi . Wordpress .com/2007/01/13/transplantasi –organ- 2/
[2] Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan . 1999. Jakarta : EGC
[3] Akhmad Khotib, Tafsir Al-Qurthubi ,(Jakarta ; Pustaka Azam, 2008)hlm 205
[4] Abuddin Nata, Masail Al-Fiqhiyah ( Jakarta ; Kencana Prenada Media Group, 2006) hl. 110
[5] Ibid. hl.94
[6] Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Tela’ah Fiqih Dan Bioetika Islam, (Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, 2004)hl. 92-93
 
ilmu kita © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by INDEX TUTORIAL KUMPULAN TUTORIAL

Bocah Ndeso Corporation